Sejarah

Kongregasi Frater Hamba Hamba Kristus

Sepuluh tahun sesudah ditahbiskan menjadi Uskup, pada tanggal 24 April 1958 Mgr. Nicolaus Martinus Schneiders, CICM menulis sepucuk surat permohonan kepada Pietro Kardinal Fumasoni Biondi, Prefect Kongregasi untuk perambatan agama, supaya rencana beliau untuk mendirikan suatu lembaga biarawan di Makassar diberi “nihil obstat”. Sambil menunggu jawaban dari Roma, Uskup mulai dengan persiapan-persiapan yang perlu untuk lahirnya sebuah biara baru. Pada pertengahan bulan Juni 1958 dengan dibantu oleh P. Fransiskus van Roessel, CICM, beliau mendirikan suatu lembaga biarawan di Makassar yang diberi nama Tarekat Hamba Hamba Kristus. Pastor Fransiskus van Roessel sendiri diangkat sebagai magister postulan pada tanggal 11 Juli 1958.

Awal berdirinya Tarekat ini menempati gedung bekas SMA Katolik, di belakang Keuskupan, sebagai rumah induk biara dengan nama “Taman Tunas”, sedangkan panggung di aula bekas perkumpulan K.S.B. (Katholieke Sosiale Bond) dipakai sebagai ruang tidur. Calon-calon anggota angkatan pertama masuk pada tanggal 4 Agustus 1958 berumlah 13 orang. Kala itu walaupun Tarekat sudah menerima anggota namun jawaban posisif dari Roma belum ada. Tetapi Monseigneur berkeyakinan bahwa Roma akan memberikan jawaban positif sehingga kehidupan untuk biara baru segera dimulai. Dalam hal mengatur dan mengurus rumah baru ini, Kongregasi sangat dibantu oleh para suster JMJ baik bantuan berupa tenaga maupun berupa perlengkapan-perlengkapan. Pada tanggal 10-14 Agustus 1958 Pastor Fransiskus van Roessel memberikan retret pertama bagi para anggota, sementara itu pada tanggal 11 Agustus 1958 Mgr. Schneiders mempersembahkan misa pertama biara baru.

Harapan dan cita-cita Mgr. Nicolaus Martinus Schneiders untuk mendirikan sebuah lembaga biarawan pribumi yang berwajah Indonesia dan yang diakui Gereja akhirnya terwujud tatkala Takhta Suci mengeluarkan surat persetujuan pada tanggal 29 Agustus 1958 dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal resmi berdirinya Tarekat Hamba-Hamba Kristus sekaligus juga pembukaan postulat yang pertama. Mengingat pengalaman Tarekat-tarekat Bruder-bruder pribumi di daerah lain yang tidak berhasil mempertahankan diri, maka dianggap lebih baik agar jangan diterima suatu angkatan baru sampai angkatan sebelumnya telah menyelesaikan satu tahun postulat dan dua tahun novisiat dan mengucapkan kaul pertama.

Pada tanggal 28 Juni 1959 dimulai tahun novisiat kanonik, yang dikuti oleh sembilan calon (dari 13 orang yang mulai postulatnya tahun 1958). Sementara itu Mgr. Schneiders dengan dibantu Pastor Fransiskus van Roessel terus membenahi Tarekat terutama menyusun konstitusi yang akan menjadi landasan hidup para anggota tarekat ini. Penyusunan Konstitusi ini selain oleh Monseigneur dan P. Frans van Roessel ini juga dibantu oleh Pastor Gerrits. Selesai menyusun konsep Konstitusi, pada tanggal 15 Maret 1960 Beliau mengirim konsep Konstitusi Tarekat ke Takhta Suci untuk diteliti.

Novisiat tahun kedua dimulai pada tanggal 29 Juni 1960 dengan enam orang novis. Selama tahun novisiat kedua para novis dilibatkan dalam karya Tarekat. Dua frater novis mengajar di SD Mamajang dan dua lagi di SD Gotong-Gotong sedangkan dua orang novis lain bekerja di bidang pertukangan dan bengkel kecil di pekarangan biara.

Pada akhir tahun novisiat kedua, para frater novis berhenti dari tugas-tugas di luar untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyambut pengikraran kaul pertama mereka. Pada akhirnya, tibalah hari yang besar, yaitu tanggal 29 Juni l961. Pada hari itu berlangsunglah untuk pertama kalinya di dalam sejarah Tarekat upacara pengikraran kaul sementara oleh 5 novis, karena selama novisiat tambahan itu seorang novis mohon “kembali ke dunia”.

Dengan itu sudah waktunya untuk menerima suatu angkatan baru. Angkatan yang kedua itu terdiri atas 7 postulan yang resmi mulai postulatnya pada tanggal 10 September 1961.

Tarekat baru berjalan empat tahun; para penghuni “Taman Tunas” hanya berjumlah 12 orang, di antaranya 5 profes. Bila ditinjau dari sudut materiil saja, maka belum ada yang mendesak supaya Tarekat mencari tempat yang lebih luas. Tetapi ada cukup hal yang lain, yang bersifat psikologis, religius dan disipliner, yang menyebabkan Uskup dan Pastor Frans van Roessel memikirkan kemungkinan pindah. Juga penerimaan calon-calon baru setiap tiga tahun saja tidak begitu menguntungkan kontinuitet dan solidaritet di antara para anggota. Dengan demikian pada tanggal 20 Juni 1962 ditandatangani kontrak pembangunan Biara induk di Jongaya yang mendapat subsidi penuh dari Roma. 

Pembangunan Biara induk selesai pada bulan Juni 1963 dan pada tanggal 25 Juli 1963 para anggota pindah ke rumah biara yang baru di Jongaya, sekarang Jalan Kumala nomor 153. Anggota yang pindah ke rumah biara baru ini berjumlah 13 orang: 3 profes, 5 novis dan 5 postulan. Bertepatan dengan peryaan pesta perak kaul kebiaraan Pastor Frans van Roessel pada tanggal 8 September 1963 diberkati dan diresmikan rumah biara induk yang diberi nama “KEFRATERAN TAMAN TUNAS”. Di dalam rumah biara induk yang baru inilah kehidupan Tarekat dapat berlangsung secara lebih baik. Dan dari sinilah kemudian dibangun rumah-rumah Komunitas cabang seiring dengan terus bertambahnya anggota Tarekat dan tuntutan karya pelayanan Tarekat.